Waspadalah Dengan Arus Liberalisme!
Arus Liberalisme yang diusung oleh Barat semakin deras yang
menyebabkan lunturnya nilai-nilai Islam di kalangan masyarakat Muslim.
Nilai-nilai Islam yang dulunya tegak, kini sudah digerogoti secara perlahan
oleh budaya Barat. Anehnya, masyarakat muslim banyak yang tidak menyadari akan
hal itu. Sehingga dengan mudahnya mereka terkontaminasi dengan budaya-budaya
yang datang dari Barat yang terkenal dengan 3f, yaitu fashion,
food, dan film.
Dalam
hal fashion, banyak sekali anak muda zaman sekarang yang
mengenakan pakaian dengan tren ala Barat, baik laki-laki maupun perempuan.
Bahkan, sampai aurat pun dipertontonkan di muka umum. Dengan anggapan bahwa
tren pakaian ala Barat adalah merek kekinian dan popular. Tapi justru mereka
terjebak oleh budaya yang semu. Akibatnya batas-batas aurat yang diajarkan
Islam dilupakan begitu saja.
Menurut Ustadz Fahmi Salim, selaku Wakil Sekjen Majelis
Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengatakan bahwa liberalisasi
dalam hal perilaku dan budaya sangatlah masif di masyarakat. Sehingga proyek
liberalisasi budaya yang diusung Barat bisa terbilang sukses, karena banyak
dari kalangan masyarakat yang tidak mengenal ide-ide dan pemikiran yang datang
Barat. Sehingga pintu liberalisasi melalui budaya sangatlah mudah untuk masuk di
Indonesia.
Begitupun
dari segi makanan (food). Produk makanan dari Barat
saat ini sudah sangat mudah ditemukan di berbagai penjuru di negara ini.
Misalnya McDonald, yang merupakan waralaba rumah makan siap saji
terbesar di dunia. Hidangan utama di restoran-restoran McDonald adalah hamburger.
Selain itu ada Dunkin’ Donuts, yaitu
restoran dan waralaba makanan internasional dalam jenis donat dan masih banyak
lagi makanan yang merupakan produk dari Barat. Dari dua produk Barat tersebut
sudah tidak asing lagi di wilayah kita. Mirisnya, mayoritas konsumennya adalah
dari kaum muslimin.
Dan
yang terakhir adalah budaya film yang diusung dari Barat. Banyak sekali dunia
perfilman yang berasal dari Barat yang mendiskreditkan nilai-nilai Islam.
Seperti halnya adegan-adegan yang mengandung free sex dan free to
watch. Sangat disayangkan sekali bahwa banyak dari kalangan
masyarakat Islam yang mengonsumsi film-film tersebut. Bahkan mereka tidak
ketinggalan mengikuti update kekinian mengenai perfilman Barat. Misalnya pada film
yang berjudul Beauty and The Beast yang
tayang pada bulan Maret 2017 silam. Film ini menuai banyak kontroversi karena
dianggap telah mempropagandakan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT)
di Indonesia. Kasus ini menandakan bahwa budaya perfilman Barat sudah mulai
menghancurkan pola pikir dan cara pandang masyarakat Muslim.
Kemunculan dan penyebaran budaya liberal di tanah air bukanlah
proses yang berlangsung alami, tetapi merupakan hasil dari proses liberalisasi
budaya yang dijalankan secara sistematis dan terorganisir. Liberalisasi budaya
juga tidak jauh-jauh dari rekayasa Barat. Budaya liberal atau budaya bebas itu
bukanlah berasal dari ajaran Islam. Budaya Barat yang mengusung nilai-nilai
liberal yang dimasukkan secara paksa ke tengah-tengah masyarakat yang
mayoritasnya Muslim. Jadi, berkembangnya budaya liberal di tanah air itu tidak
lepas dari konspirasi Barat. Akibatnya, nilai-nilai Islam sangat mudah
dirobohkan melalui konsep yang mereka sebarkan.
Untuk
membentengi nilai-nilai keislaman dari pengaruh budaya Barat, maka perlu
ditanamkan kesadaran kepada kaum muslimin tentang pentingnya berkiblat pada
budaya dan peradaban Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah saw. dan para
sahabatnya. Selain itu, perlu juga ditunjukkan kepada mereka bahwa paham-paham
liberalisme yang saat ini yang diusung oleh Barat tidak sesuai dan bertentangan
dengan pandangan hidup Islam. Maka dari itu, kita sebagai umat Islam harus
waspada akan derasnya arus liberalisasi yang dibawa oleh Barat, agar tidak ada
nilai-nilai Islam yang didiskreditkan.

Komentar
Posting Komentar