In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

 

foto ilustrasi dari aet.co.id

Ibadah Umroh adalah Impian bagian banyak orang. Minimal masa tunggunya untuk bisa pergi ke Mekkah tidak butuh waktu lama seperti ibadah haji. Yang penting ada uang, langsung berangkat dengan pilihan agent travel masing-masing. Pada tahun 2025, tercatat bahwa jumlah Masyarakat Indonesia yang berangkat umroh tembus 648 ribu.  Untuk kalangan yang sudah mapan secara finansial (upper class), mengeluarkan biaya berangkat umroh mungkin masih tergolong ringan, apalagi mereka biasanya ambil paket umroh yang premium; umroh plus Turki, Umroh plus Dubai, Umroh plus Liburan ke Eropa, dll. Bagi kalangan Elit, menggocek kantong untuk umroh seperti menggocek kantong untuk beli seblak.

Bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Apakah mereka tidak boleh merasakan indahnya mencium hajar aswad? Menikmati ketenangan di pelataran masjid Nabawi sambil ngonten Tiktok seperti Selebgram-selebgram berduit lainnya?

Umroh itu ibadah yang disunnahkan. Jadi tidak wajib untuk dilakukan. Apalagi di tengah ekonomi yang terseok-seok, kebutuhan keluarga yang semakin bertambah, biaya sekolah anak, biaya pajak yang harus dibayar, biaya merawat orang tua, dll. Memaksa berangkat umroh dengan alasan dan pembenaran teologis semu, hanya akan merugikan seseorang. Apalagi dia masuk pada level middle class, atau bahkan dibawahnya lagi (lower).

Ingat, biaya hidup semakin mahal!, jadi jangan cari pembenaran agama (teologis) untuk menuruti tren berangkat umroh! tanpa memiliki modal yang cukup. Sialnya, agent dan travel umroh sekarang punya strategi jitu untuk menarik Jama’ah pergi umroh yaitu, sistem bayar cicilan. “Berangkat Umroh dulu, cicilan bisa dibayar setelah kembali ke Tanah Air”. Ini salah satu flyer yang pernah penulis temukan di sosmed. Hidup susah, harus bayar cicilan travel pula, duh Gusti!.

Gak heran, berangkat umroh sudah terang-terangan jadi ajang komersialisasi para travel umroh. agent travel ini punya calo yang salah satu targetnya adalah kalangan menengah kebawah atau bapak ibuk yang tinggal di pedesaan yang sering dapat iming-iming pergi ke Mekkah dari calo tersebut.

Suatu ketika, penulis dapat kabar di tempat penulis tinggal, bahwa ada seorang nenek yang hampir didoktrin sama calo travel untuk berangkat umroh. jadi, si nenek ini sudah punya suami, dan suaminya meninggal beberapa tahun silam. Si calo datang kepada nenek tersebut dan mengatakan, “Mbah, Mbah Lanang kan pun sedo, nopo mboten dibadal umrohke mawon”? si nenek menjawab, “Duite teko ndi, nduk”? si Calo menjawab, “La nggeh mbah, kan mbah lanang tasek gadah peninggalan sawah”. Denger kasus ini, saya ngelus dada. Kenapa ada modelan calo yang niradab dan dlogok begini. Sudah tahu si nenek cukup susah untuk menghidupi dirinya sendiri, tapi malah digiring untuk mengambil penghasilan dari sawah warisan untuk membadalkan umroh si kakek yang sudah meninggal.

Selain kasus badal umroh di atas, ada pula yang sudah terjebak janji manis calo travel umroh. setidaknya ada 2 orang nenek di desa saya yang rela menjual bagian dari warisan tanah orang tuanya untuk berangkat umroh. Dan, tahu apa yang terjadi setelah selesai menunaikan ibadah umroh? 2 nenek di atas masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-sehari, bahkan sampai hutang ke tetangganya!

Travel umroh dan para calonya terkadang tidak peduli dengan kondisi finansial masyarakat. yang mereka pikirkan adalah profit. Mereka tidak peduli dengan etika sosial dengan cara mencampuri urusan finansial orang lain. Bagi mereka, itu adalah dakwah yang tepat untuk memberangkatkan jamaa’ah ke tanah suci!.

Kisah dan fenomena di atas perlu dijadikan pelajaran untuk tidak tergesa-gesa mengeluarkan uang demi iming-iming pahala, namun justru prioritas kebutuhan keluarga, biaya pendidikan anak-anak jadi terabaikan atau bahkan tidak masuk pada sekala prioritas.

Masyarakat tidak sadar bahwa menafkahi keluarga, memberikan pendidikan terbaik untuk anak, dan merawat orang tua adalah bagian dari ibadah yang pahalanya tidak kalah dengan mereka yang berangkat umroh, bahkan lebih besar. Karena ibadah sosial yang melibatkan kepentingan orang banyak (khususnya kebutuhan keluarga) lebih tinggi derajatnya ketimbang ibadah individual. Apalagi, ibadah individualnya dicapai dari hasil jual tanah warisan!. In this economy, prioritas kebutuhan keluarga jangan dikorbankan dengan budaya Fomo (fear of missing out) berangkat ke Tanah suci, meskipun dengan iming-iming cicilannya!.

Berharap sepulang umroh kehidupannya tenang, malah ada hutang yang harus dibayar ke pihak travel. Umroh seperti modelan begini, tentu akan melahirkan kesenjangan baru. Yang lebih ngerinya lagi, banyak yang jadi korban adalah kalangan janda tua di pedesaan. Apalagi mereka dilingkari dengan sirkel toxic ibuk-ibuk pengajian yang juga jadi calo travel umroh. “Kapan meneh budal nang mekkah, tanah warisan kuwi gak digowo mati”! denger narasi begini saja orang-orang desa sudah takut, seakan berangkat umroh itu adalah satu-satunya ibadah yang mengantarkannya menuju surga. Nah, jualan surga dan wisata religi ke tanah suci adalah senjata ampuh yang sering digaungkan para calo untuk menggaet jama’ah ke travel umroh yang sudah ia ajak kerjasama.

Kata siapa jadi kelas menengah ke bawah yang hidup di pedesaan bisa tenang? Ketemu modelan calo travel yang lamis dan mengumbar janji manis keberangkatan umroh dengan dana cicilan jadi tambahan penderitaan yang tiada henti. Si calonya dapet untung, bahkan jika dapat jama’ah yang cukup banya ia bakal dapat umroh gratis, sementara kelas menengah yang jadi korban janji manis yaa kehidupannya panggah miris!. 



    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

    Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup