Pesantren Bangkitkan Peradaban Islam di Indonesia

Dewasa ini, Eksistensi pesantren mempunyai peran penting dalam membangkitkan peradaban Islam di Indonesia. Pesantren mempunyai nilai-nilai Islam yang kuat, sehingga mampu mendidik santri-santrinya menjadi mundzirul qaum, penegak kebenaran, serta membangkitkan nilai dan peradaban Islam yang kini mulai memudar. Saat ini, banyak dari orang muslim yang tidak mengetahui tentang aspek sejarah peradaban Islam, khususnya di era modern ini. Mereka lebih interest terhadap worldview Barat dari pada peradaban Islam itu sendiri (Islamic Civilazation). Sehingga, ketidaktahuan inilah yang menyebabkan mereka  jauh dari peradabannya sendiri.
Berkenaan dengan hal tersebut, penulis mengutip ungkapan Prof. Syed Naquib al-Attas bahwa ada tiga hal yang menjadi akar masalah umat: Pertama adalah ilmu yang rusak. Kedua, loss of adab (hilangan adab). Ketiga, kemunculan pemimpin palsu.
Akar masalah yang pertama adalah ilmu yang rusak. Di pondok pesantren diajarkan ilmu pengetahuan Islam dan sains secara mendalam. Bahkan, di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Indonesia diterapkan sistem dan kurikulum agama 100 persen dan kurikulum Umum 100 persen. Artinya, Pondok pesantren juga menekankan secara dalam ilmu agama tapi juga tidak menafikan ilmu umum. Sehingga, para santri diberikan bekal yang cukup untuk menjawab tantangan zaman. Ilmu yang mereka pelajari di pesantren bukan hanya sekedar teori, akan tetapi diaplikasikan di dalam kehidupan pesantren. Fenomena ini berbanding terbalik dari siswa-siswa yang mengenyam di beberapa Lembaga Pendidikan Negeri. Mereka lebih banyak belajar tentang sains dari pada pelajaran agama. Kalaupun ada, porsi pelajaran agama hanya  sedikit.  Sehingga watak dan karakter mereka lebih condong dengan peradaban dan budaya Barat.
Akar masalah yang kedua adalah loss of adab. Adab dan budaya sopan santun atau unggah-ungguh di pesantren masih tetap terjaga nilainya. Karena di dalam Islam, adab adalah inti dari segala hal. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Innama buistu liutammima makarima al-akhlaq.” Sesunguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.
Untuk membangun sebuah peradaban syarat utamanya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menjunjung tinggi nilai-nilai adab. Bagaimana masyarakat Indonesia ini saat ini, apakah adab diletakkan dalam posisi tertinggi, atau justru malah sebaliknya?. Indonesia saat ini sedang mengalami krisis moral dan adab. hal ini bisa terjadi karena beberapa masyarakat Indonesia mulai menafikan ajaran-ajaran Islam, dan lebih bertendensi terhadap sains Barat. Menurut Prof. Syeid Naquib al-Attas tujuan dari pendidikan adalah menghasilkan manusia yang beradab (a man of adab), bukan malah sebaliknya.
Akar masalah yang ketiga adalah kemunculan pemimpin palsu. Tidak adanya adab dan ilmu dalam diri manusia akan memunculkan kebodohan dan kesesatan, salah satunya adalah munculnya pemimpin palsu. Tipikal pemimpin seperti ini akan  membahayakan kalangan masyarakat, karena akan menyebarkan faham yang rusak atau sesat. Sebuah peradaban akan hancur apabila dipimpin orang yang yang tidak mempunyai kapasitas dan kapabilitas keilmuwan yang cukup. Sebagaimana yang disampaikan oleh penyair: Abul aswad ad du’ali “La yashluhunnasu faudha la sarato lahum, wala sarota izha juhhaluhum saduu”. Tidak akan baik keadaan suatu kaum atau masyarakat apabila tidak ada pemimpinnya, dan tidak ada kepemimpinan yang baik jika orang-orang bodoh mulai berkuasa.
Untuk mengembalikan nilai-nilai peradaban Islam, masyarakat harus mempelajari dan memahami ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah  SAW, termasuk dari aspek sejarahnya. Selain itu, budaya adab dan sopan santun harus tetap tegak, sehingga tidak muncul pemimpin-pemimpin palsu di negeri ini.
Di Indonesia, secara konkrit kiprah pesantren memberikan dampak yang positif dalam membangkitkan peradaban Islam. Karena nilai-nilai dan ajaran Islam selalu ditanamkan kepada santri-santrinya. Sehingga, banyak para santri yang menjadi garda terdepan dalam menegakkan nilai-nilai Islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup