Menjadi Masyarakat Khairu Ummah


            
Di dalam agama Islam, kriteria masyarakat terbaik yang diridhai oleh Allah SWT adalah menjadi masyarakat Khoiru Ummah. Yaitu masyarakat yang selalu menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Kriteria masyarakat yang ideal ini telah disebutkan dalam firman Allah SWT. di dalam surat Ali Imran ayat 110 yang berbunyi:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ  (ال عمران: 110)
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran [3]: 110)t
Ayat di atas menjelaskan bahwa umat Islam adalah umat pilihan, yaitu kaum muslimin. Kita sebagai orang muslim hendaknya bersyukur kepada Allah SWT, karena sudah diberikan mansibah atau Posisi menjadi golongan umat yang terbaik. Apakah cukup hanya diberikan gelar khoiru ummah saja?. Tidak, akan tetapi posisi tersebut tidak ada gunanya kecuali kita menyeru kepada kebaikan, menebar kebaikan dengan amalan-amalan yang sudah rasulullah saw ajarkan kepada kita. Dari Ibadah Qauliyyah maupun Fi’liyyah. Selain itu, kita tidak hanya menyeru kepada kebaikan atau al-amru bil ma’ruf saja, akan tetapi harus selalu al-nahyu anil munkar atau mencegah kemungkaran dan maksiat yang terjadi di masyarakat kita. Karena di era modern ini masyarakat kita sudah mulai terkena virus budaya orang-orang Barat, baik itu dari cara berpakaian, bertutur, berperilaku, dan bahkan bergaya hidup atau lifestyle.
Untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran bukanlah suatu hal yang mudah. Akan tetapi membutuhkan proses yang lama. Sebagaimana yang sudah dialami oleh baginda kita, Nabi Muhammad SAW ketika mengajak orang-orang quraisy untuk memeluk agama Islam. Saat itu, seruan dan ajakan Nabi tidak hanya satu kali, dua kali, bahkan berkali-kali. Beliau dengan sekuat tenaga mengajak mereka untuk memeluk agama yang diridhlai oleh Allah SWT yaitu Islam. tidak sedikit dari orang kafir quraisy yang menyakiti Nabi ketika berdakwah, bahkan sampai ada ancaman pembunuhan. Maka sangat relevan sebuah petuah dari Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi, “Bondo Bahu Pikir Lek Perlu Sak Nyawane Pisan”. Untuk berjuang menegakkan Kalimah Allah harus siap berkorban harta, pikiran, dan bahkan nyawa sekalipun. Sebagaimana yang sudah diimplementasikan oleh Nabi Muhammad saw.
Betapa banyak kemungkaran, kemaksiatan, dan kerusakan yang terjadi di masyarakat saat ini. Sebagai seorang muslim pilihan, hendaknya kita berusaha sekuat tenaga untuk mendakwahi, mengajak mereka kepada kebenaran. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW;
عَنْ أَبي سَعِيْد الخُدري قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلم يَقُوْل : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلِإيْمَانِ . رواه مسلم .
Dari Sahabat Abu Said al-Khudry ra. “Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan tangannya, lalu jika tidak bisa maka dengan lidahnya, lalu jika tidak bisa maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman” (HR. Muslim)
Dari hadits tersebut menjelaskan bahwa dalam mencegah kemungkaran itu membutuhkan proses yang lama, karena di dalam Islam yang paling diutamakan adalah prosesnya. Karena semakin lama prosesnya, maka akan semakin besar limpahan pahala dari allah SWT.
Selain ayat di atas, Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran, ayat 104 yang berbunyi:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104)
Dari ayat di atas dapat diperoleh kata kunci yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan Khairu Ummah, yaitu pertama, al-Khair yang secara harfiah diterjemahkan dengan kebajikan. Dalam berbagai ayat al-Qur’an dan hadis, al-Khair bisa berarti kekayaan atau juga kemakmuran.

Istilah kedua, yang menjadi sangat populer dan sering dijadikan slogan politik adalah apa yang kemudian dirumuskan sebagai amar ma’ruf nahi munkar.  Amar ma’ruf tidak bisa dipisahkan dari nahi munkar. Artinya, dalam perbuatan amar ma’ruf terdapat pengertian mencegah yang munkar. Jika kebaikan ditegakkan maka dengan sendirinya, yang buruk dapat dicegah. Demikian pula sebaliknya, dalam pengertian nahi munkar tercakup pengertian amar ma’ruf, karena mencegah kejahatan adalah termasuk ke dalam perbuatan baik.

Dari sini bisa dipahami bahwa untuk menjadi masyarakat Khoiru Ummah kita harus selalu menebar kebaikan, mencegah kemungkaran, dan selalu beriman kepada Allah SWT agar selalu mendapatkan ridha dan perlindunganNya. Selain itu, yang dimaksud khoiru yaitu kumpulan orang yang memiliki kesamaan budaya. Budaya itu ialah orientasi kepada al-Khair, memiliki mekanisme amar ma’ruf nahi munkar, aturan tatanan atau pemerintahan yang adil dan beriman kepada Allah SWT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup