Mengatakan Tanpa Mengerjakan



    Fenomena sekarang ini, banyak sekali kita temukan tipikal orang yang banyak berkata-kata, akan tetapi perkataan yang dia ucapkan tidak selaras dengan perbuatan yang dia kerjakan, atau istilah dalam bahasa Arab adalah kaburo maqtan. Penyakit ini timbul bukan hanya pada satu individu saja, akan tapi banyak dilakukan oleh beberapa orang di kalangan masyarakat. Di dalam Islam, perbuatan ini sangat dibenci oleh Allah SWT, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-qur’an di Surat As-Shaf ayat 2-3.
يـاَيـُّهَا الَّذَيـْنَ امَنُوْا لِمَ تَـقُوْلُـوْنَ مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. كَـبُرَ مَقْتـًا عِنْدَ اللهِ اَنْ تَـقُوْلُـوْا مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ.
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. Ash-Shaff : 2-3
            Ayat di atas sudah jelas, bahwa kaburo maqtan adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT. Orang Muslim yang melakukan perbuatan ini akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat kelak. Tidak hanya itu, tipikal orang yang kaburo maqtan ini juga akan menimbulkan keresahan di masyarakat, karena bisa mengakibatkan hilangnya kepercayaan dalam berhubungan dan berinteraksi antar sesama. Yang lebih berbahaya, jika hal ini dilakukan oleh pemuka agama atau dai yang sudah sering menyampaikan dakwah kepada masyarakat yang ia bina di daerahnya. Selain itu, efek yang timbul dari perbuatan ini adalah hilangnya muru’ah (kepribadian) seorang dai yang dipandang baik dan bisa memberikan uswatun hasanah kepada masyarakatnya. Hal ini juga akan memberikan dampak yang luar biasa bagi kejiwaan seorang dai, bahkan hati nuraninya akan terusik dengan kebohongannya yang selalu dia lontarkan saat berdakwah. Hidupnya pun tentu tidak akan tenang dan harmonis di lingkungannya.

            Dalam menafsirkan ayat di atas (As Shaf, 2-3), Abdullah Yusuf “The Holly Qur’an” mengungkap Asbabun Nuzul (Penyebab Turunya) berkenaan dengan perang Uhud, Tahun 3 Hijriyyah. Ketika perang Uhud ada beberapa orang yang tidak menaati perintah, dan dengan begitu mereka merusak disiplin. Mereka banyak bicara, tetapi keputusan kata-katannya tidak didukung oleh perbuatan yang nyata dan tegas. Perilaku demikian, adalah perilaku yang sangat keji dan dibenci oleh Allah SWT.
            Sikap kaburo maqtan ini, juga disinggung dalam hadits Bukhori dan Imam Muslim.
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى . فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ . فَيَقُولُونَ : يَا فُلانُ ! مَا لَكَ ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ؟ فَيَقُولُ : بَلَى . قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلا آتِيهِ ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ .
Meriwayatkan sebuah hadits tentang nasib orang yang hanya pandai berkata-kata, tanpa tindakan nyata. “Pada hari kiamat kelak, ada seseorang dipanggil, ia kemudian dilemparkan ke dalam neraka sehingga ususnya terburai, dan berputar-putar bagai keledai menarik penggilingan. Penduduk neraka mengerumuninya, dan bertanya “mengapa kamu ini? bukankah kamu dulu suka memerintahkan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran?”
            Orang tersebut menjawab: Benar! Aku suka mengajak kalian berbuat kebaikan, tapi aku sendiri justru tidak melakukannya. Aku juga suka mencegah kalian dari kemungkaran, tapi aku sendiri malah melakukanya.
            Hadits ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai seorang muslim yang berpegang teguh pada prinsip dan nilai-nilai Islam. Agar tidak timbul sikap “kaburo maqtan” ini yang sangat dibenci oleh Allah SWT.


Mengingat begitu besar bahaya yang ditimbulkan akibat berkata tanpa berbuat, sebaiknya kita harus hati-hati dalam berkata kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW,
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقل خيرًا أو ليصمت
Artinya: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah di berkata baik atau diam (HR. Bukhori)
            Semoga kita sebagai orang Muslim, bisa menjaga perkataan kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah, khusunya dalam hal berkata tanpa berbuat (kaburo maqtan) yang banyak kita dengar di kalangan masyarakat. selain itu, jika kita mengatakan atau menasihati orang, kita juga harus konsisten dalam mengerjakannya, bukan  hanya sekadar mengatakan tanpa mengerjakan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup