Antara Mimpi (Dream) dan Resesi Finansial Keluarga
Clive
Staples Lewis atau lebih dikenal dengan C.S Lewis seorang penulis asal Britania
Raya pernah mengatakan, “You are never too old to set another goal or to
dream a new dream”. Dari wise word di atas kita bisa menyimpulkan bahwa
untuk bermimpi atau menetapkan sebuah tujuan kita tak perlu memandang usia. Siapapun
diri kita, kita berhak untuk memiliki mimpi dan mewujudkanya, tanpa menunggu
orang lain untuk merealisasikan mimpinya, it’s your right, dear.
Di
waktu silam, Ketika duduk dibangku SD, pasti kita pernah ditanya oleh Bapak dan
Ibu Guru di kelas mengenai mimpi dan cita-cita. Seraya saat itu kita menjawab
dengan serentak dan antusias; ingin menjadi dokter, pilot, polisi, tentara,
dsbg. Dengan jawaban yang masih polos waktu itu, setidaknya kita pernah
menancapkan mimpi-mimpi itu, meskipun ketika sudah masuk fase remaja,
eskpektasi yang kita impikan tak sesuai realita, atau bahkan jauh dari prediksi
kita sebelumnya. No need to worry, tidak perlu kecewa, karena bermimpi itu
gratis, tanpa dipungut biaya (without payment).
Kadangkala
mimpi untuk menjadi dokter, pilot, dsb itu belum terwujud, tapi yang perlu kita
sadari bahwa kelulusan kita dari jenjang SD sampai dengan SMA adalah sebuah
mimpi dan cita-cita yang berwujud nyata, dan itu yang perlu kita apresiasi dan
syukuri. Siapa sosok pejuang dibalik layar yang telah merealisasikan mimpi-mimpi
kita kala itu?, orang tua. Iya, orang tua yang sudah mengantarkan kita menapaki
mimpi-mimpi itu dalam wujud nyata.
Ketika
memasuki jenjang perkuliahan, sosok orang tua terus berjuang memeras keringat
untuk membiayai putra-putri terbaiknya guna mengenyam pendidikan yang layak. Bahkan
kalau kita telisik lebih dalam, rekam jejak pendidikan orang tua ada yang sampai
SD, SMA, ataupun SMA. Tapi, kenapa mereka masih berjuang hingga berdarah-berdarah
untuk memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya?, karena rasa sayang dan harapan
mereka pada anak sangatlah besar (they want you better than them).
Mungkin mereka belum bisa mengenyam pendidikan tinggi, tapi mereka ingin
mencetak pemimpin-pemimpin yang siap menjadi problem solving dari carut-marutnya
kehidupan di era ini.
Kalian
pasti sudah tidak asing dengan cerita Anak Tukang Becak, Tukang Kuli Bangunan,
Go-Jek, dsb bisa lulus Cumlaude di salah satu kampus terbaik di dalam maupun di
luar negeri. Itu adalah salah satu prestasi yang luar biasa. Si anak tidak
gengsi dengan mata pencaharian orang tua, namun mereka lebih semangat belajar
dan menggapai mimpinya untuk menjadi manusia yang militan, produktif, dan mampu
menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan ketimpangan di masyarakat.
Di
era sekarang ini, khususnya di masa pandemi Covid19 ada orang tua yang mampu membiayai
pendidikan anaknya, ada juga yang tidak mampu membiayai. Karena untuk
menghidupi keperluan keluarga saja masih nyari hutang kesana kemari. Memang cukup
miris melihat realita kehidupan masyarakat yang kurang cukup dalam finansial
untuk membiayai pendidikan anaknya. Etis kah seorang anak menuntut orang tua
yang kurang mampu untuk mewujudkan mimpinya; kuliah di luar negeri, jalan-jalan
ke negeri orang, membeli laptop dan gadget buat riset, dsbg? Just let the
writer share his own perseptive
Aku,
kamu, dan kita memiliki mimpi dan cita-cita masing-masing. Kita tidak boleh
membatasi mimpi kita, apalagi tidak mau bermimpi untuk menjadi orang yang baik,
berwawasan luas, berpendidikan tinggi, dan berguna di masyarakat kelak, No,
You Should’nt limit it. Kita punya hak untuk sukses, membahagiakan orang tua,
dan bisa mencapai target-target yang kita dambakan sejak lama.
Namun,
ada hal penting yang perlu kita sadari, yaitu kondisi finansial keluarga. Ketika
kita tahu, paham, dan sadar kalau kondisi finansial keluarga masih belum cukup
efektif untuk mewujudkan mimpi kita, apa lantas kita terus berambisi untuk
mengejarnya? Wait dear, you should keep your dream. Tapi jangan berhenti
dari mimpi itu.
Kondisi
finansial keluarga memang menjadi hal krusial yang patut kita sadari. Dari sini
kedewasaan kita teruji, seberapa peka dan peduli diri kita dengan kondisi
tersebut. jika seandainya kita tahu kondisi keluarga kita sedang tidak baik-baik
saja dalam hal finansial, kita tidak perlu menggebu-gebu, berambisi untuk terus
mengejar mimpi kita; ingin jalan-jalan ke luar kota, beli motor baru, beli
outfit branded, dll. Dalam kondisi tersebut, kita tidak sedang dalam keadaan
yang kalah, namun kita diuji untuk tidak terlalu ambisius dalam mencapai sebuah
mimpi.
Dalam
kondisi tersebut, kita juga tidak dalam keadaan yang gagal (failure), kita
sedang mengalami proses penempaan diri untuk lebih berfikir dewasa, bijak, dan bisa
menempatkan posisi kita pada garis mimpi. Mimpi yang sedang kita canangkan
tidak akan pergi begitu saja, karena dalam kondisi seperti kita sedang diuji
untuk mengasah mimpi itu agar menjadi spektrum mimpi yang lebih besar dan
menjanjikan di masa depan anda kelak.
Ambisi,
dan tidak pernah merasa cukup adalah penyakit yang pasti melekat dalam diri. Dengan
wawasan, kedewasaan, dan pola pikir yang kita miliki, kita dituntut untuk mengendalikan
penyakit tersebut. karena jika tidak, akan menimbulkan kebiasaan yang kurang
baik, hingga menimbulkan retaknya finansial keluarga kita di rumah.
Menjadi
pribadi yang wajar, tidak mudah terpengaruh dengan gaya hidup (life style) orang
lain adalah sikap yang perlu kita tanamkan dalam diri. Sebagai manusia kita
tidak diciptakan untuk bersikap rakus, mengedapankan egoisme. Namun kita
diciptakan untuk selalu mensyukuri apa yang telah kita miliki (if You are
grateful, I will give you more. QS: 14:7)
Akhir
kata, siapapun kita, mimpi dan cita-cita adalah sebuah peluang hidup yang perlu
kita perjuangkan. Namun, mimpi itu perlu diberi ‘jeda’ dengan melihat kondisi
finansial kelurga yang jauh di sana, karena mereka adalah pahlawan yang sedang
membangun rel-rel mimpi yang telah kita tancapakan, agar kedepanya mudah kita
lewati. Taukah apa rel-rel yang mereka (orang tua) bangun selama ini?, rel-rel
itu adalah Ridho, Jerih Payah, Kerja Keras, dan doa’doa’ yang mereka panjatkan
di setiap sujudnya.
Islamabad, 6
Agustus 2021

Terbaik
BalasHapus