Mahasiswa Afghanistan dan Kuliah Daring

Salah satu pemandangan kota Kabul, Afghanistan 


Pandemi Covid19 masih belum berakhir, segala aktifitas diimplentasikan secara daring (online) termasuk beberapa instintusi pendidikan di dunia. Hal ini dilakukan untuk mencegah serta memutus mata rantai penularan covid19. Bagi mereka yang terbiasa mengikuti pembelajaran secara luring (offline) pasti awalnya merasa shock dengan sistem pembelajaran yang baru ini (online). Pasalnya, dalam sistem pembelajaran ini terasa kurang lega kalau belum bisa tatap muka dengan pengajar (Ustadz), dan belum bisa mengajukan pertanyaan seperti di ruang kelas lalu. Saya selaku mahasiswa magister (Currently) di International Islamic University of Islamabad merasakan hal serupa. Tapi apapun keadannya semangat belajar tidak boleh kendor atau menurun karena alasan yang kita punya, justru ini adalah Big Challenges yang harus kita hadapi bersama.

Pernah kapan hari ada salah satu temen saya curhat soal kelas online yang ada di kampus, dia termasuk salah satu mahasiswa yang cukup berprestasi dengan nilai IPK tiap semester yang di atas rata-rata. Dia sampaikan ke saya bahwa ghirah atau semangat belajar dia tidak segiat dulu ketika kelas tatap muka di ruang perkuliahan. Ya wajar sih, tiap orang punya penilaian masing-masing terkait sistem pembelajaran daring, plus minusnya pasti semua orang bisa merasakan hal serupa. Di sistem daring ini, kampus (IIUI) juga menyediakan layanan Wi-Fi Gratis untuk para mahasiswa untuk berpartisipasi dengan kelas online, ya meskipun ada yang tidak kecipratan sinyal-nya, mereka beli PTCL/modem internet sebagai solusi agar lebih nyaman buat ikutan kelas online, wkwk

Tapi tidak usah khawatir, kita yang stay di asrama dengan fasilitas internet yang dibilang minim harus kita syukuri. Karena ada classmate saya yang dari Afghanistan lagi kesulitan dengan sinyal internet. Tadi malam (4 Jan 2021) ketika dimulai kelas dalam materi al-Qanun al-Dhusturi  Wal Siyasah al-Syariyyah seorang dosen bertanya kepada CR (Ketu Kelas) tentang keberadaan si A (Mahasiswa Afghan), Ketua kelaspun menyahut “Ustadz, Huwa lahu Muskylah fi al-Sabakah, Li annahu saakin fi mantiqah harbiyah” (Ustadz Si A ada kendala jaringan internet untuk mengikuti kelas online, karena dia tinggal di daerah perang), kata Ketua Kelas “Huwa fi bahsi an sabakah fi baiti jaarihi” (dia lagi nyari sinyal di rumah tetangganya), rumah tetangganya yang lebih aman dari peperangan. Ujar CR

Melihat fenomena di atas mata saya berkaca-kaca, seketika bicara dalam hati “Kamu masih ada alasan males buat kuliah online dengan segudang alasan”?. Saya terenyuh jika melihat perjuangan dan pengorbanan kawan saya dari Afghanistan untuk ikut pembelajaran online di kampus. Dia tidak pernah patah semangat untuk terus mengejar mimpinya dalam menuntut ilmu. Dari kuliah daring tadi malam, saya banyak menemukan ibrah bahwa kita yang merasa paling susah, kesulitan, dan berbagai ribuan alasan, ternyata masih ada yang lebih sulit dari apa yang kita alami. Yuk banyakin bersyukur, ingetin diri kita dan orang lain, karena mereka saudara seperjuangan dari tanah air yang sama-sama berjihad thalabul ilmi di Negeri Ali Jinnah ini.

 

AFF

Islamabad, 05 Januari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup