Damai Dengan Secangkir Chai
Budaya meminum Chai di Pakistan
menjadi tren tersendiri bagi warganya dan warga asing yang tinggal di dalamnya.
Pasalnya, kedai-kedai Chai di negara ini sudah menjamur dari satu tempat ke tempat
yang lain, dari daerah pelosok hingga perkotaan. Dari mulai kedai kecil, sampai
kafe-kafe menengah ke atas yang tidak kalah dipadati oleh para pejabat untuk
meneguk secangkir Chai favoritnya. Karena rasanya ada yang kurang jikkalau
belum meminum secangkir Chai sembari bercakap santai dengan kawan dan sanak
saudara.
Bagi mahasiswa rantau seperti
saya, meminum Chai di negeri Bhaijan adalah suatu privilege tersendiri. Karena
cita rasanya sangat cocok bagi lidah anak-anak Indonesia yang mengenyam pendidikan
di negara ini. Mahasiswa Indonesia lebih dominan tinggal di Islamabad karena mayoritas
dari mereka belajar di International Islamic University of Islambad (IIUI). Kampus
ini punya kedai kopi yang bernama Royal Café. Kedai yang jualan Chai dan aneka makanan
khas Pakistan ini selalu menjadi daya tarik mahasiswa untuk nongki. Selain murah
meriah, kedai royal letaknya dekat dengan asrama.
Dulu, sebelum pandemi, kedai royal
selalu dipadati oleh mahasiswa yang ingin ngobrol santuy dengan teman dekatnya
sembari memesan secangkir Chai. Bahkan, mereka betah berjam-jam duduk di kedai sambil
meneguk Chai-nya, kalau secangkir tidak cukup, ia memanggil cukidar (Pelayan)
untuk memesan yang kedua, bahkan ketiga atau lebih. Chai selalu punya cerita tersendiri
untuk menemani obrolan para penggemarnya.
Ketika pandemi datang, Royal café
menutup kedainya demi keamanan tertularnya covid19, itu juga termasuk policy
atau kebijakan dari kampus agar mahasiswa tetap menjaga jarak (social
distancing). Semenjak itu, kedai sudah tidak menerima pelanggan dengan makan di
tempat, tapi pelayanan hanya bisa dilakukan dengan take away (bawa
pulang). Dari musibah inilah, tempat yang biasa buat nongki mahasiswa sementara
ditutup.
Meminum Chai yang nikmat ketika
kita berada di kedai yang kita hampiri, rasanya kurang asyik kalo beli Chai
diminumnya di hostel. Ini celotehan dan keluhan mahasiswa yang pernah aku dengar.
Menurutku benar juga sih, karena kalau dibawa ke kamar (take away), setibanya di
kamar Chai itu berubah, tidak sehangat ketika diminum di kedai. Hehe. Meski
begitu, penggemar Chai tetaplah setia meskipun berbeda situasi dan kondisi.
Secangkir selalu memberi cerita, dari
situ antara anak manusia bisa saling berbagi canda, tawa, bahkan luka yang
dialaminya. Seteguk meminum Chai bisa memberikan kedamaian dan kehangatan tersendiri
bagi penikmatnya. Tidak usah khawatir, ketika pandemi sudah mereda, secangkir
Chai akan menyatukan kita dalam diskusi di meja kedai. Harga memang tidak
menjadi segalanya, namun cerita aku, kamu, dan kita menjadi pengalaman berharga,
yang suatu saat nanti akan kita ceritakan kepada keluarga selepas pulang ke tanah
air tercinta.
"Jika kamu kedinginan,
secangkir Chai akan menghangatkanmu; jika kepanasan, akan mendinginkanmu; dalam
kondisi tertekan, akan menghiburmu; jika terlalu bersemangat, akan
menenangkanmu."
Islamabad, 13 Januari 2021

Komentar
Posting Komentar