Merdeka Sejak Dari Hati dan Urgensi Penanaman Akhlak Generasi Oleh Kalangan Akademisi
Tinggal
menghitung hari, kita semua akan merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang
ke-75. Bukan dengan sikap euforia yang tidak memberikan manfaat bagi bangsa, namun
memberikan kontribusi nyata untuk memajukan bangsa dan memakmurkannya. Bicara
mengenai kemerdekaan, kita selaku akademisi khususnya yang sedang menimba ilmu
di dalam maupun di luar negeri harus bisa memaknai arti kata merdeka. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Merdeka artinya Bebas (dari penghambaan,
penjajahan dan lain sebagainya) atau dapat berbuat sekehendak hatinya. Jika
dalam diri kita, masih terkungkung dengan ketidakstabilan tujuan hidup, tanpa
arah yang jelas, keegoisan, arogansi, tamak kekuasaan dsbg, Apa ini yang
dinamakan merdeka?.
Dalam konteks universal, kita melihat dengan
kasat mata bahwa negeri kita sedang digerus oleh arus kolonialisasi terselubung
oleh asing dan aseng, penjarahan sumber daya alam, hingga berimplikasi pada
lemahnya di sektor ekonomi, pendidikan, dan bahkan terhadap hutang negara yang
tak kunjung berkurang. Secara logika manusia sehat dan waras, Apakah bangsa ini
benar-benar merdeka?. Melihat cases di atas, kata merdeka seolah hanya
menjadi bualan semata tanpa ada kontinuitas dan kinerja dari kader-kader bangsa
dalam merealisasikan arti kemerdekaan yang sesungguhnya.
Dalam momentum hari kemerdekaan ini, hal yang
paling mendasar untuk kita mulai adalah merdeka sejak dari hati dan jiwa. Buya
Hamka pernah menuturkan bahwa Kemerdekaan suatu negara dapat dijamin teguh
berdiri apabila berpangkal pada kemerdekaan Jiwa. Artinya, kita sebagai generasi
penerus bangsa harus terus melakukan perbaikan dan perubahan diri. Terkadang
keegoisan, ketidakjujuran, ketamakan akan jabatan, dan sikap acuh kita
mempengaruhi perkembangan dan kemajuan untuk negeri ini. Terutama mereka-mereka
(read; otoritas) yang mempunyai jabatan strategis dalam menjalankan roda dan
dinamika negara, baik di sektor pendidikan, ekonomi, budaya, sosial dan lain
sebagainya. Perbaikan dan perubahan diri ini berkaitan erat dengan akhlaq dan
adab para generasi bangsa ini.
Dalam mewujudkan sebuah perubahan untuk bangsa sejatinya tidak cukup hanya bermodalkan kepintaran, tapi miskin akan kepedulian, juga miskin dalam memakmurkan warga negaranya sendiri. Banyak dari kalangan yang punya amanah dan jabatan tinggi, namun menggelapkan triliunan uang rakyat hingga kabur ke luar negeri. Maka tidak heren kalau Indonesia saat ini sedang menghadapi tumor ganas, yaitu merosotnya akhlaq dan adab para pejabatnya. Bersekongkol dengan asing guna meraup keuntungan yang tiada tara, hingga merelakan sumber daya alamnya dikuras sedemikian banyaknya. Kondisi seperti ini sudah tidak asing di mata kita selaku seorang akademisi dan kader terbaik bangsa. Bahkan kondisi semacam ini menjadi PR besar (Great project) yang harus kita hadapai bersama.
Peran Civitas Akademika Untuk Bangsa
Di hari kemerdekaan ini, kontribusi dan karya
civitas akademika harusnya menjadi hasil yang nyata, bukan hanya sebagai wacana
belaka. Di sisi lain Indonesia juga harus percaya bahwa negara ini bisa
berdaulat tanpa mengemis kepercayaan kepada asing, seperti halnya yang pernah dituturkan oleh Bapak Proklamator bangsa, Ir.
Soekarno bahwa “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu
bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka”. Oleh karena
itu, Indonesia perlu memberikan ruang dan kesempatan bagi para putra terbaiknya
yang tengah mengenyam pendidikan di
dalam maupun di luar negeri, yang sudah lulus maupun yang masih dalam proses
studi memiliki andil besar untuk membangun negeri.
Bagi mereka yang sudah lulus dari jenjang
studinya, harusnya tidak berdiam diri, tapi harus melakukan aksi; seperti
mengabdikan diri untuk masyarakatnya dengan mengajar, membuka lembaga
pendidikan, memajukan sektor ekonomi dengan membuka usaha UMKM, dan beberapa
kegiatan yang positif dan bermanfaat untuk orang-orang sekitarnya. Sebagai
sebuah permisalan, Saya mempunyai guru yang dulunya lulusan di salah Pergurusan
Tinggi di Timur Tengah mendirikan lembaga pendidikan berbasis pesantren di
kampung halamanya usai menuntaskan masa studinya. Dengan begitu, saya yakin
banyak dari kader-kader indonesia yang mengabdikan dirinya dengan membangun
umat di sektor pendidikan semacam ini.
Bagi mereka yang masih dalam proses studi dan menimba ilmu, baik di dalam maupun di luar negeri masih ada kesempatan emas untuk mengasah diri, seperti yang pernah dikatakan oleh Gubernur Jakarta, Pak Anies Baswedan bahwa “anak muda yang kuliah di luar negeri harusnya tidak hanya berprestasi di bidang akademik, namun kaya akan relasi dan pengalaman di negara yang ia tempati, lalu pengalaman berharga itu bisa dibawa ke tanah air”. Sehingga ketika mereka sudah pulang ke daerahnya bisa memberikan kontribusi yang nyata dalam membangun peradaban umat, yaitu mencerdaskan kehidupan generasi bangsa. Karena hal ini sudah tertera dalam salah satu pilar bangsa, yaitu dalam pasal 31 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang undang." Oleh karena itu, mencerdaskan kehidupan generasi bangsa menjadi hal yang krusial guna mencetak generasi bangsa yang unggul, tidak hanya bermodalkan prestasi akademisi, namun juga prestasi dalam membawa keadilan untuk sesama yang ditopang dengan akhlaq dan adabnya.
Kemerdekaan Sebagai Momentum Penanaman Akhlaq
Bagi Tiap Generasi
Memperingati kemerdekaan tidak hanya dengan
euforia dan kegiatan seremonial semata, namun juga perlu ada kegiatan khususnya
di sektor pendidikan dengan menggalakan “penanam akhlaq dan adab sejak dini”.
Hal ini merupakan nilai (value) yang perlu dibangun untuk mencetak generasi
yang militan untuk bangsa di tahun mendatang. Ibnu Maskawaih, dalam buku Tahdzibul
Al Akhlaq menjelaskan mengenai metode perbaikan akhlak melalui lima cara. Pertama,
mencari teman yang baik. Banyak orang terlibat tindak kejahatan karena faktor
pertemanan. Kedua, olah pikir. Kegiatan ini perlu untuk kesehatan jiwa,
sama dengan olahraga untuk kesehatan tubuh. Ketiga, menjaga kesucian kehormatan
diri dengan tidak mengikuti dorongan nafsu. Keempat, menjaga konsistensi
antara rencana baik dan tindakan. Kelima, meningkatkan kualitas diri
dengan mempelajari kelemahan-kelemahan diri. Oleh karena itu menanamkan akhlaq
dan adab menjadi hal yang prioritas.
Dalam rangka menanamkan akhlaq dan adab bisa
digalakaan melalui berbagai lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, yaitu
dengan terus mengajarkan kepada anak-anak akan pentingnya berperilaku baik
terhadap sesama, tidak menggurui, mengedepankan etika dalam berkomunikasi, dan
selalu senantiasa jujur dalam berperilaku sosial. Karena dewasa ini, kalau kita
lihat dengan kasat mata bahwa di sektor pendidikan di Indonesia secara umum
lebih mengacu kepada “Mencetak Generasi Yang Siap Kerja”, hal ini yang pernah
digaungkan oleh Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim bahwa dia akan berfokus pada dua kinerjanya ke depan, salah satunya
penyelarasan kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia
kerja.
Statemen di atas banyak menuai kontroversi
dari kalangan akademisi maupun masyarakat secara holistik, karena mengandung
makna yang bias, seakan generasi Indonesia akan dicetak yang siap bekerja di
pabrik-pabrik yang dimiliki oleh negara tanpa memperhatikan hal yang krusial
yaitu adab dan akhlaq, hal ini yang sangat disayangkan oleh otoritas yang
selama ini memimpin bangsa. Oleh karena itu, untuk mencetak generasi yang
unggul di segala bidang, khususnya dalam hal akhlaq dan adab, perlu adannya
kerja kolektif di berbagai sektor yang ada di Indonesia, baik itu pendidikan,
ekonomi, budaya dsb. Kalaupun ingin menjadi pendidik, pengusaha, budayawan, dan
yang lainnya harus menjadi orang yang baik, berguna dan bermanfaat. Bukan malah
memanfaatkan, apalagi dimanfaatkan. Nauzubillah.
Maka dari itu, kita sebagai civitas
akademika, tidak hanya memperingati hari kemerdekaan di saat waktunya tiba.
Namun kemerdekaan itu harus selalu ada dalam hati dan sanubari. Diri kita
jangan sampai mau dijajah atau dibelenggu oleh nafsu, sehingga tujuan hidup
kita tidak tentu arahnya. Dalam konteks bernegara, kemerdekaaan itu harus
muncul dari berbagai sektor, sehingga Indonesia menjadi negara yang merdeka dan
berdaulat, tidak terjajah dan dikendalikan oleh asing. Namun mampu menjadi
negara yang berkuasa penuh atas kemerdekaanya yang selalu menanamkan pentingnya
akhlaq dan adab bagi generasi selanjutnya, dari sini peran civitas akademika
sangat besar akan kemajuananya.
Wallau’alam bisshowab.

Komentar
Posting Komentar