Memaknai Cinta Yang Sesungguhnya


Dengan kata “Cinta”, seseorang mungkin sudah tidak asing lagi mendengar dan memaknainya. Khususya bagi mereka yang menginjak usia remaja. Karena masa atau usia saat remaja mereka lebih bisa merasakan getarannya di lini-lini kehidupan yang membersamainya. Bicara tentang cinta, menurutku kata ini masih umum. Cinta yang seperti apa dan bagaimana?. Most of people, saya yakin kalau mereka disuguhkan dengan kata cinta, yang terbenak dalam pikiran mereka adalah cinta terhadap seseorang yang selama ini dia kagumi, atau bahkan sudah jadi screat admirer-nya. Di kalangan remaja, Cinta itu timbul apabila ada hati dan perasaan yang mengantarkannya pada kekaguman terhadap seseorang. Dan seseorang yang dituju pastinya menjadi orang yang spesial dalam hidupnya, sampai-sampai antara keduanya menjalin hubungan yang disebut dengan pacaran. Kadang orang yang sedang pacaran tidak mau disebut pacaran, tapi kalau ada orang yang tanya, Jawabnya “kita cuman temenan aja kok”. Tapi nyatanya tidak seperti itu, mereka bener-bener menyembunyikan hal itu.  

Pacaran itu mungkin bisa diidentikan dengan cinta, tapi tidak semua cinta bisa diidentikan dengan pacaran. Karena diantara keduanya saling bertolak belakang. Pacaran terkadang hanya sebuah “Cinta Semu” yang berujung pada perpisahan. Makannya dari sinilah munculnya kebencian dalam sebuah kata “Cinta”. Seakan orang yang sudah terjebak dengan cinta (read:Pacaran) akan berujung pada perpisahan. Cinta selain menimbulkan kebencian, ia juga bisa membuat orang menjadi bodoh. Mau orang itu sejenius, sepintar, seprestasi apapun kalau terjebak dengan cinta (semu) dia akan menjadi bodoh. Dia seakan punya job tambahan untuk membahagiakan sang kekasih, meskipun faktanya dia tidak benar-benar bahagia. Dia habiskan seluruh waktunya untuk orang yang ia kagumi; tiap hari senyum-senyum sendiri lihat foto kekasihnya, saling berkabar, bahkan sampai tidak mengenal waktu. Intinya nih, “I have given all of my heart for you dear”, kamu gak ada duanya deh. Tapi melihat case semacam ini, tidak sedikit juga yang breaking up atau putus dengan orang yang selama ini dia kagumi. Tuh kan cinta bisa membodohi diri seseorang, bahkan yang jenius sekalipun. Dalam buku “Rule of Loves”, yang ditulis oleh Mbak Esty Dyah Imaniar ada catatan yang menarik, “Konon ketika jatuh cinta seorang jenius pun mendadak bodoh, padahal cinta seharunsya tidak membodohi. Parahnya kita sering menyempitkan makna cinta sebatas hubungan laki-laki dan perempuan. Kenyataannya, formula cinta dalam diri manusia adalah sama adanya. Entah itu untuk manusia, hewan, lingkungan, bahkan semesta. Entah itu cinta pasangan, teman, bahkan cinta atas nama kemanusiaan. Secara umum tidak ada perbedaan biologis dari semuanya.

Dari catatan yang saya kutip dari tulisan mbak Esty, Intinya cinta itu jangan hanya dipersempit maknanya dengan faktor tertentu, tapi harus lebih holistik. Akibatnya, kalau kita mempersempit kata ‘cinta’ itu sendiri justru akan menenggelamkan diri kita pada sebuah kebencian dan kebodohan. Cinta tidak hanya dimaknai untuk manusia semata, namun juga pada hewan dengan tidak menyakiti dan menyiksanya. Cinta kepada lingkungan, dengan selalu merawat dan menjagannya agar tetap memberikan rasa aman dan nyaman. Konsep cinta seperti ini yang belum banyak dipahami oleh seseorang, khususnya bagi kalangan remaja yang suka baperan. Gimana mau membangun dan memaknai sebuah cinta, kalau pengetahuan dan ilmu terhadap cinta itu sendiri tidak dikuasai. Akibatnya, mereka akan terjebak bahkan tergerus dengan cinta (semu) itu sendiri.

Ada hal yang krusial dalam memaknai sebuah cinta. Pertama, kita harus cinta terhadap Tuhan (Allah SWT) yang menciptakan kita. Tuhan menciptakan manusia dengan suatu tujuan dan harapan, pastinya disitulah ada wujud cinta dari Tuhan yang tiada batas. Sampai ketika hambaNya sering berbuat salah, Dia selalu memberikan ampunan yang sangat luas dan tiada batas. Tuhan menciptakan manusia dengan rasa cinta, entah apapun yang dilakukan seorang hamba kepadaNya, Ia pasti memaafkannya. Sangat aneh, kalau seorang manusia sebagai hamba Tuhan tidak punya rasa cinta sedikitpun kepada sang Khaliq. Kedua, Cinta terhadap diri sendiri. Yaitu dengan tidak menyakiti dan menzalimi diri dengan perbuatan yang kurang bermanfaat. Menjaga kesehatan dan pola makan termasuk wujud cinta terhadap diri sendiri. Ketiga, Cinta terhadap manusia, dengan selalu menjalin hubungan dan komunikasi yang baik merupakan wujud cinta kita kepada sesama. Tidak mudah menyakiti, menjaga ucapan, dan menjaga tingkah laku saat bercengkrama dengan mereka. Pun juga, peduli terhadap sesama dalam hal apapun seperti menolong di saat yang lain kesusahan merupakan manifestasi dari cinta. Keempat, Cinta terhadap hewan, tumbuhan dan alam sekitarnya. Dengan tetap menjaga dan merawatnya termasuk wujud cinta yang tiada tara. Oleh itu, kita sebagai manusia harus mengetahui makna cinta secara holistik dan komprehensif agar tidak terjebak dengan pemahaman cinta yang salah, bahkan bias dengan fitrah kita sebagai manusia.

 

Islamabad, August 3, 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup