Stop Comparing Yourself to Others




Kenapa kau begitu berbeda dengan kawanmu?. mungkin pertanyaan semacam ini pernah muncul depan muka kita saat sedang asyik ngobrol dengan kawan sebaya. Mendengar statement ini kadang kita risih, sampai nge-batin “ngapain sih banding-bandingin hidup orang, toh tiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing”. Tapi, kita juga gak bisa salahkan temen kita yang memunculkan pertanyaan semacam itu. Bisa jadi, itu sebuah ‘reminder’ bagi kita untuk selalu instrospeksi diri, lebih care dengan diri sendiri yang selama ini ‘sometimes’ kita sendiri yang melukai diri kita dengan kecorobohan, kemalasan, kebodohan yang kita perbuat. Tidak perlu marah kalau ada kawan kita yang berkata demikian. Bagi orang yang punya prinsip ‘positive thingking’ semuanya akan dijadikan mudah (take it easy), selow bin santuyy. Atau mungkin diri kita aja yang tempramen dan jauh dari kata ramah dalam bermuamalah.  

Bagi saya pribadi, saya gak suka membandingkan diri saya dengan orang lain (ngrumpi ala emak-emak).Karena tiap individu punya kapasitas dan kemampuan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan itu pasti ada, toh kita hanya sebatas manusia yang tak pernah lepas dari kata salah dan lupa. Bagi saya, membandingkan kelebihan dan kelemahan orang lain dalam bentuk ucapan lisan di depan temen itu aib. Saya jadi teringat petuah guru saya “Kamu boleh membaca aib orang, tapi jangan sampai membacakannya”.

Pesan singkat di atas sangat bermakna bagi saya, bagaimana tidak? Guru saya membolehkan saya membaca aib orang untuk supaya kita lebih berhati-hati dalam bersikap, bertingkah laku, dan melangkah (instropeksi diri), mengambil pelajaran dari apa yang sudah orang lain lakukan, lalu apabila ada kekurangan kita bisa melengkapinnya. Membacakan aib orang lain jangan sampai, ini berbahaya. Bahkan di dalam ajaran agama, ini  sangat dilarang, ibarat kita memakan daging saudara kita sendiri. Tutupi aib mereka selama kita masih mampu menutupinnya, bukan diumbar, toh kita juga gak mau kan kalau orang lain membuka aib kita. So just be a good man for your self and other.

Dalam hidup, kadang kita terlalu silau dengan prestasi orang lain. Saking silaunnya kita sampai lupa dengan target dan cita-cita yang udah kita canangkan. Terlalu gumun dengan prestasi orang itu juga gak baik. So, bersikaplah sewajarnya. Orang lain yang udah dapat jatah sukses atau segudang prestasi karena mereka berusaha keras, berani capek, gak kenal lelah, atau bahkan dia udah menghabiskan jatah gagalnya dalam setiap program yang udah dia planning sebelumnya.

Prestasi yang mereka raih itu baru yang tampak oleh mata, tapi cucuran keringat yang udah mereka keluarkan bahkan tak bisa kita jangkau dengan panca indra saat itu juga. Memang, paling enak itu lihat yang instan-instan tanpa tahu jeri payah dibalik prestasi yang mereka miliki.

Banyak dari kita yang tidak berani melangkah karena takut dengan hantu kegagalan. Ketakutan ini terkadang membuat diri kita mager dan gak mau ngapa-ngapain, sampai punya pikiran “gak usah ngerjain yang ini deh, ini kan susah, pasti gagal dan gak bakal berhasil”. Belum berani mencoba dan takut gagal adalah kegagalan yang seseungguhnya. Kita sebagai manusia harus berani mencoba, berikhtiar, lalu tawakkal. Bukan sebaliknya, tawakkal dulu, baru ikhtiar, tidak. Atau hanya bermodalkan tawakkal aja, tidak mungkin.

Apapun ikhtiar yang kita lakukan, itu adalah awal langkah yang baik untuk mewujudkan cita-cita. Ingat ya, kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Selama kita berencana lalu gagal, wait…itu hanya kesuksesan yang tertunda, bahkan ada pepatah mengatakan “Habiskan jatah gagalmu, sampai gagal itu bener-bener malas datangin kamu”. Berat, memang seperti inilah lika-liku hidup. Kalau tidak mau menanggung beratnya hidup, mati adalah jalan terbaik. Tapi kematian manusia semacam ini adalah suatu kehinaan, tidak punya prinsip, orientasi, dan tujuan hidup. Hidup sekali, hiduplah yang berarti.

Apapun, dan bagaimanapun keadaan kita sekarang, berubah menjadi lebih baik adalah solusi. Tiada arti kita bandingkan hidup kita dengan orang lain, karena matahari dan bulan akan bersinar saat waktunya tiba. Oleh itu, masing-masing dari kita  mempunyai peran untuk memberikan kebermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup