Problem Finansial dan Angka Kematian
Beberapa waktu
yang lalu, saya menelpon orang tua di rumah untuk berkabar tentang keadaan saya
selama mengenyam pendidikan di negeri orang. Moment ini saya lakukan 1 kali
dalam seminggu, bahkan sudah menjadi kewajiban bagi saya sebagai anak semata
wayang yang harus peka untuk saling berkabar sapa, rindu, nostalgia dengan
orang tua. Di sela-sela obrolan, ada suatu kisah yang memilukan yang saya
dengar dari Ibu saya, yaitu wafatnya tetangga saya (perempuan) akibat lambatnya
penanganan secara medis.
Menurut cerita Ibu,
tetangga saya yang meninggal itu sudah lama mengidap penyakit jantung. Selain karena
faktor usia yang sudah di atas kepala tujuh, penyakit jantung yang diderita
almarhumah sudah memakan waktu hampir 1 tahun. Tapi yang sangat disayangkan kelurga
dari almarhum (anak dan menantu) sangat lambat untuk memberikan solusi
pengobatan kepada seorang dokter.
Setelah dianalisis,
lambatnya pengobatan disebabkan karena lemahnya finansial keluarga almarhumah. Karena
mayoritas keluarga itu berprofesi sebagai petani, hingga tidak cukup untuk
menopang dana pengobatan almarhumah. Akhirnya penyakit jantung sudah lama
diderita, hanya diberikan obat-obatan ringan sebagai penenang.
Karena rumah
keluarga almarhumah dekat dengan rumah saya, suatu ketika Ibu menyarankan
kepada tetangga tersebut untuk memeriksakan penyakit yang diderita simbah ke
rumah sakit agar penyakit jantungnya bisa teratasi. Namun ada kalimat dan
ucapan yang sungguh sangat menyayat hati dari anak almarhumah, “Yo ben wes
ra usah diobatke neng dokter, mengko nek gak enek dewe simbah e”, (Biarkan
saja lah nanti juga nenek nya meninggal dengan sendirinya). Ya rabb, seketika
Ibu saya kaget dengan jawaban dari anak almarhumah, hingga ibu saya tidak lagi
untuk mencampuri urusan rumah tangganya.
Tiap harinya
almarhumah hanya diberikan obat-obatan ringan, namun penyakitnya tidak kunjung
hilang, bahkan malah semakin parah, hingga berujung pada kematian.
Cerita di atas,
sungguh sangat menyedihkan. Khususnya melihat keterbatasan penduduk desa dari
faktor finansial (ekonomi), pendidikan, mentalitas cara pandang hidup yang
sempit, dsbg. Saya berasumsi bahwa kejadian semacam ini tidak hanya terjadi di
daerah saya, namun juga terjadi di daerah lain yang mayoritas penduduknya
mempunyai latar belakang yang serupa, khususnya dalam hal finansial.
Melihat case
semacam ini, saya ingin mengkorelasikan dengan peristiwa memalukan di negeri
ini, yaitu dana Bansos yang dikorupsi oleh Menteri Sosial Juliari Batubara.
Dana senilai triliunan rupiah yang harusnya untuk membantu penduduk yang
terbelakang dalam hal finansial justru malah diraup untuk kepentingan individu.
Timpangnya distribusi dana bansos juga akan memicu penderitaan penduduk yang
kurang mampu, khususnya dalam hal pengobatan penyakit yang diderita. Bila terlambat
penanganan, nyawalah taruhannya, bahkan akan berdampak pada meningkatnya angka
kematian.
Untuk meringankan
mereka-mereka yang kurang mampu, perlu adanya gerak kolektif dalam ranah sosial
yang kedepanya menjadi garda terdepan untuk menurunkan angka kemiskinan. Meski tidak
sampai menurunkan angka kemiskinan, setidaknya bisa meringankan beban mereka-mereka
yang kesusahan dalam mencari sesuap nasi untuk makan. Wallahu’alam

Komentar
Posting Komentar