Jejak Langkah Menuju Katora lake: Antara Cinta, Perjuangan, dan Pengorbanan

    Menjelajahi indahnya alam yang Allah ciptakan adalah salah satu hobiku sejak dulu. Karena aku lahir di kampung halaman yang menurutku cukup memiliki pemandangan indah; dekat dengan pegunungan, laut, dan pematang sawah yang membentang. Ini menandakan bahwa nikmat Allah begitu luas, mungkin yang baru bisa aku nikmati hanya secuil keindahan. Saat merantau mengenyam ilmu di negeri seribu cahaya, Pakistan, aku manfaatkan moment liburan kuliah untuk menjelajah alam di negeri ini. Keindahan alam yang kata banyak orang mirip dengan keindahan alam di benua eropa, khususnya dari sisi wisata pegunungan yang ada di negeri Bhaijan ini.

Pada hari Senin (21/9) lalu, aku bersama 5 orang teman seperjuangan (Fahmi, Isal, Try, Rizki dan Ridhan) memutuskan untuk berangkat menuju tempat wisata yang sebelumnya sudah kita canangkan. Berawal dari obrolan ringan di sela-sela momen latihan Badminton di lapangan kampus, akhirnya membuahkan hasil untuk menjelajah alam di daerah utara Pakistan, yaitu di daerah khumrat dan Jahaz Banda. 2 daerah ini termasuk wilayah provinsi Khyber Pakhtunkhwa (KPK) yang terkenal dengan daerah pendalaman, suhu dinginnya pun pernah sampai minus derajat celcius. Makanya, kita ambil momen ini pas lagi summer, meskipun pas udah tiba di daerah KPK, udah terasa cukup dingin bagi kami yang berdomisili di Ibukota Islamabad.

Perjalanan kami bermula dari terminal Mandi Morr (Islamabad). Karena kami tidak menggunakan travel, akhirnya kami mencari angkutan umum yang bisa mengantar ke terminal Timergara dengan jarak tempuh sekitar 3 jam setengah. Bicara soal terminal di Pakistan, menurutku gak jauh beda dengan ada yang di indonesia, perbedaanya di sini lebih padat penumpangnya, dan untuk biayapun menurutku lebih murah. Dengan berbekal pisang 1 darjen dan 2 botol air putih, kami pun berangkat menuju terminal Timergara. Ketua (Amerr) rombongan kami, Fahmi Wira pun mengajak kami semua untuk berdoa’ agar kemudahan dan keselamatan Allah berikan selama perjalanan. Sungguh indah pemandangan di saat perjalanan, melihat deretan gunung berjajar rapi, hembusan angin sepoi-sepoi, serta hiruk pikuk kehidupan warga yang hidup di perkampungan.

Selama kurang lebih menempuh perjalanan 3 jam menuju Timergara, kami pun beristirahat sejenak serta shalat jama’ (Zuhur & Ashar) di salah satu musholla. Sesampainnya di sana, tidak sedikit dari orang-orang tua, muda, dan anak-anak yang melihat kedatangan kami, entah yang yang kami rasakan memang seperti itu kalau kita jadi orang asing di negeri orang, ya ibarat kita di indonesia melihat bule-bule lah, rasanya seperti jadi pusat perhatian, it’s okay, that’s comman sense in Pakistan, bisa jadi di negara lain juga demikian.

Perjalanan menuju ke Thall, Khumrat pun dimulai dari titik terminal Timergara. Hiruk pikuk kehidupan yang saya alami di Ibukota Islambad sangat bertolak belakang dengan di tempat ini, banyak orang berlalu lalang; ada yang menawari mobil angkutannya, ada yang jualan makanan dan minuman ringan, ada pula pengemis yang  di pinggiran jalan. Perjalanan dari Timergara ke Thall kurang lebih menempuh waktu 6-7 jam. Di tengah perjalanan ada salah satu teman kami yang ingin berhenti sejenak (buang air kecil, lalu sopir angkutan kami memberhentikan mobilnya di salah  satu masjid di daerah  Dir. Tidak kami sangka, ternyata masjid itu dimiliki oleh salah  satu komunitas Jama’ Tabligh, di dalamnya ada asrama dan tempat belajar. Akhirnya tuan rumah mengundang kami untuk santap siang, dibarengi obrolan santai sambil meminum seteguk Chai ala Pakistan, ya begitulah karakter orang Pakistan, mayoritas mereka sangat memuliakan tamu, They have a great hospitality. Entah, Qadarullah  selama perjalanan selalu ada kemudahan yang kami rasakan. Setelah ngobrol santai dengan salah  satu pembesar di Jama’ Tabligh tersebut kami melanjutkan perjalanan menuju Thal. Namun sebelumnya salah satu dari pembesar di tempat itu punya anak didik atau santri yang berdomisi di tempat yang kami tuju, yaitu Thall sekaligus kami dicarikan tempat penginapan (hotel) dengan harga yang murah meriah, lumayan worth it dan tersedia beberapa fasilitas yang memadai.

Sesampainya di Thall, kami pun beristirahat karena perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Esok paginya Selasa (22/9) kami memulai perjalanan menuju Khumrat Valley, sebuah pemandangan yang sedap dan elok di mata; deretan pegunungan indah, cuaca dingin, aliran sungai yang jernih atau orang sering menyebutnya blue river, dan melihat pemandangan murni di kampung pedesaan. Tidak kalah menariknya, di situ  ada air terjun yang airnya super jernih, bahkan diminum pun juga segar. Bagi kami Khumrat Valley bukan hanya tempat biasa namun ia ibarat jelmaan syurga yang sengaja Tuhan turunkan untuk penduduk yang tinggal di situ, tidak begitu banyak yang bermukim di situ. Karena Khumrat termasuk daerah dingin, bahkan kalau sudah  masuk winter bisa sampai minus derajat celcius. Makanya kami ambil vacation ke situnya ketika summer. Anehnya ketika summer (read: di Islamabad), ketika sampai di Khumrat terasa cukup dingin, bahkan ketika bermalam selimut tebal pun sangat tidak mungkin untuk ditanggalkan.

Perjalanan ke Khumrat tidak terlalu  menguras tenaga, karena di sepanjang perjalanan menyusuri sungai, rindangnya pepohonan kami menaiki mobil Jeep dengan sopir yang cukup handal, Amirr namanya. Keesokan harinya, Rabu (23/9) kami melakukan perjalanan ke destinasi terakhir yaitu di Jahaz Banda, dengan pesona padang rumput, pegunungan, dan yang tak kalah indahnya Katora Lake yang ada di dalamnya. Rute kami saat itu, naik mobil dari Thal ke Taki Banda yang ditempuh kurang lebih 2-3 Jam, dari Taki Banda munuju Jahaz Banda kisaran 3 jam pendakian, mantap bukan? Haha. Di tengah pendakian 6 orang dari kami, sudah jelas kelihatan; mana yang fisiknya kuat, sok kuat, pura-pura kuat, atau sudah menampakkan kekopongannya? Tapi asyik sih perjalanan kami, dari situ kami lebih mengenal watak dan karakter masing-masing dari kita, ya begitulah goresan cerita akan tertulis dalam pena sejarah.

Siang hari sekitar jam 1 siang, kami sampai di Jahaz Banda. Kami merasa takjub, begitu mempesonanya tempat ini; padang rumput, pegunungan bersalju, dan hewan-hewan seperti kuda, sapi, dan kambing di sekitarannya menjadikan tempat ini lebih eksotis. Beberapa waktu  kemudian kami mencari penginapan, santap siang, lalu melanjutkan perjalanan menuju WaterFall di Jahaz Banda. Cukup menarik, karena pemandangan alam yang indah, disuguhkan dengan air terjun, dan aliran sungai yang membuat kami tidak berhenti mesyukuri nikmat yang Allah titipkan di tempat yang elok ini.

Setelah  menikmati pemandangan air terjun, keesokan harinya (kamis 24) kami melakukan perjalanan menuju our main destination yaitu Katora Lake. Lagi-lagi melakukan pendakian dari Jahaz Banda menuju danau katora memakan waktu kisaran 3 jam. Menurut kami bukan cukup melelahkan, tapi sangat dan sangat melelahkan, bahkan ada salah satu teman kami yang nyletuk ”Pokoknya gue gak bakal mau kesini lagi, cukup sekali aja, gue kapok”, wkwk. Ya mau gimana lagi, untuk mendapatkan impinan yang dicapai, kita harus siap berkorban, apapun resikonya harus tetap dihadapi dengan segala konsekwensi. Setelah pendakian 3 jam kamipun sampai di Danau Katora. Pemandangan yang menakjubkan, sebuah  danau yang airnya berasal dari pegunungan salju yang mencair, minum langsung dari telaganya bisa menghilangkan rasa haus dan dahaga. Alhamdulillah, lelah kami terbayar setelah melihat manifestasi alam yang Allah ciptakan begitu mempesona, seakan kami berada di dunia lain.

Bagi kami ini bukan hanya sekedar perjalanan, ini adalah kisah anak manusia yang berusaha mencari jejak-jejak keindahan yang Tuhan anugerahkan. Teringat ada pepatah yang mengatakan “Alam yang membentang jadikan guru”, iya benar, saat itu kami menemukan sosok guru yaitu ketika bercengkrama dengan alam; indahnya pegunungan salju, danau katora, serta gumpalan awan dan cahaya matahari, seolah mereka menyaksikan jerih payahnya anak manusia yang ingin bersua dengan mahakaryaNya. Kami datang ke Katora karena cinta, oleh karenanya kami rela berkorban, berjuangan melawan diri sendiri. Allah kuatkan langkah kami, hingga jejak kaki-kaki itu membekas di sepanjang pendakian pada saat itu dan akan menjadi saksi bahwa kami pernah Allah tadirkan berada di tempat bak Syurga ini. Oleh karenanya, jangan berhenti bersyukur, kapanpun dan dimanapun, akan ada jejak langkah kaki seorang pejuang yang siap melangkah demi melihat indahnya manifestasi agung yang diciptakan oleh-Nya.

 

Islambad, 5 Oktober 2020

 Selected Gallery of Our Trip:

#Khumrat Valley





#Jahaz Banda & Katora Lake 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Dalam Perspektif Sejarah, Organisasi, Dan Sistem Nilai (Resensi Buku Part 1)

In This Economy, Kelas Menengah Kebawah Gak Usah Sok-sok an Pergi Umroh!

Candu Game: Memusnahkan Waktu dan Menghilangkan Keberkahan Hidup