George Floyd: Korban Pandemi Rasisme dan Diskriminasi
Akhir-akhir ini dunia sedang digemparkan oleh berita kematian
seorang warga Amerika yang bernama George Floyd. Floyd mati dalam keadaan yang
mengenaskan ketika lehernya dicekek oleh lutut seorang polisi di Minneapolis,
Derek Chauvin. Kejadian itu yang bermula dari dugaan penggunaan uang palsu
kepada Floyd oleh seorang penjaga kasir tempat ia membeli rokok di salah satu
toko. Tidak lama Floyd meninggalkan toko tersebut, seorang kasir melaporkannya
ke polisi terdekat, tepatnya di Minneapolis. Selang beberapa menit Floyd
disekap oleh polisi dan dijatuhkan badannya ke tanah, meski beberapa kali
sedikit melawan dan membela diri. Setelah adannya perlawanan, akhirnya Floyd
dijatuhkan kembali badannya ke tanah dengan posisi kepala dicekek dengan lutut
Derek Chauvin. Sempat mengerang dan tidak bisa bernafas, Floyd mengatakan “Please
help me I can’t Breathe”. Namun tidak ada respon dari seorang polisi yang
mencekeknya. Kejadian itu berlangsung sekitar 8 menit 45 detik yang akhirnya
menewaskan warga Amerika berkulit hitam tersebut.
Kejadian yang
mengenaskan sekaligus memalukan ini sempet terekam dan terunggah di Media
Sosial, sehingga tampak jelas bahwa seorang polisi yang harusnya mengayomi dan
melindungi rakyatnya, justru menjadi pelaku kriminal yang secara directly
ditonton langsung oleh publik. Bahkan, sempat menggemparkan dunia. Dari
peristiwa ini muncul klaim adanya rasisme terhadap warga negara Amerika yang
berkulit hitam seperti Floyd. Selang beberapa hari munculnya peristiwa ini,
warga Amerika yang tinggal di berbagai kota menuntut keadilan atas terbunuhnya
Floyd oleh penegak hukum. Akibat peristiwa ini pula banyak demonstran yang
geram dengan sikap pemerintah yang tidak bersikap tegas dalam melindungi warga
negaranya. Protes terjadi di berbagai negara di dunia, khususnya di berbagai
kota di Amerika, bahkan ada yang sampai membakar beberapa perkantoran dan pertokoan
yang di wilayah tersebut.
Sudah tidak
asing lagi di telinga kita bahwa Amarika merupakan negara yang paling banter
dan nomor wahid dalam menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM). Namun faktanya tidak
demikian, bahkan negara itu paling depan dalam melanggar HAM itu sendiri. Sikap
rasis terhadap warga negara yang berkulit hitam masih terjadi di beberapa
wilayah. Padahal, kalau kita telisik dari sisi historis, warga Amerika yang
berkulit putih itu cuman pendatang dari Eropa. Yang lambat laun merampas tanah
jajahannya yang sekarang bernama Amerika. Suku Apache dll yang pertama kali
menginjakkan kaki di benua tersebut menjadi warga yang termarginalkan posisinya
atau berada dalam second class.
Seperti yang
dilansir dalam berita BBC News bahwa peristiwa ini merupakan pandemi
rasisme dan diskriminasi yang sampai menelan korba jiwa bernama Floyd. Miris
rasanya melihat ketidakadilan yang terjadi di negeri Paman Sam, seolah penegak
hukum yang harusnya menjadi pengayom dan pelindung warga negaranya justru
terjerat kasus pembunuhan secara blak-blakan di muka umum. Kejadian memilukan
ini menjadi “Tinta Hitam” bagi Amerika yang sering teriak akan Hak Asasi Manusi
(HAM), Sungguh Ironi.
Di dalam Islam,
keadilan sangatlah dijunjung tinggi. Tidak memandang ras dan suku. Keadilan
dalam Islam menempatkan sesuatu pada tempatnya, saling membantu sama lain tanpa
adannya dikriminasi antar kedua belah pihak. “Sesungguhnya manusia
dicipatkan di muka bumi ini berbangsa-bangsa, bersuku-bersuku untuk saling
mengenal. Dan manusia yang paling mulia adalah bukan mereka yang memiliki
superiotias kekuasaan, harta yang banyak, popularitas, nanum mereka yang paling
banyak taqwannya (al-Hujurat 13).”
Oleh karena
itu, sahabat sekalian kita sebagai makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini
seharusnya berlaku adil kepada siapapun tanpa adannya perbuatan rasis dan
diskriminasi kepada mereka yang tidak satu suku, bangsa, dan negara dengan
kita. Sesungguhnya derajat kita di mata Allah itu sama, yang membedakan adalah
taqwa, bukan harta dan popularitas. Mari saling mengingatkan kepada sesama di
dalam kebaikan, agar tidak terjadi perselisihan dan pertikaian. Wallahu
a’lam bisshawab.

Komentar
Posting Komentar